Hari Kartini di Polres Nganjuk: Ketika Melayani SIM Menjadi Perayaan Budaya


Selasa (21/4/2026) pagi, suasana kantor Satlantas Polres Nganjuk berubah drastis dari biasanya. Deretan petugas yang biasa tampil dalam seragam dinas rapi, hari itu hadir dengan pakaian adat yang beragam—ada kebaya, kain batik, beskap, hingga blangkon. Program "Polantas Menyapa" edisi Hari Kartini ini tidak hanya mengubah penampilan, tetapi juga mengubah esensi pelayanan menjadi sebuah perayaan budaya. Para pemohon SIM dan STNK yang datang disambut dengan senyuman hangat dan dipersilakan duduk dengan nyaman, sementara di pojok ruangan, anak-anak kecil sudah disambut oleh wahana permainan dan camilan. Pelayanan publik yang biasanya membosankan berubah menjadi pengalaman yang kaya akan nilai tradisi dan kehangatan.

Dari perspektif seorang pemuda yang baru pertama kali mengurus SIM, ia merasa bangga karena di hari yang istimewa ini, ia justru mendapatkan layanan yang tidak biasa. Sambil menunggu proses foto dan pencetakan kartu, ia diajak mengobrol oleh petugas berbaju adat tentang pentingnya keselamatan berkendara, tetapi dengan cara yang santai dan tidak menggurui. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan, yang turut hadir memantau pelayanan, menyebut bahwa busana adat adalah simbol bahwa kepolisian adalah bagian dari masyarakat. "Kami tidak datang dari luar untuk mengatur. Kami adalah bagian dari budaya yang sama, dan kami ingin melayani dengan cara yang dekat dengan hati masyarakat," ujarnya.

Kasat Lantas AKP Ivan Danara Oktavian menambahkan bahwa perayaan budaya ini juga menjadi sarana edukasi halus tentang identitas lokal. Di era globalisasi di mana banyak generasi muda mulai lupa dengan pakaian tradisional mereka, melihat polisi berbaju adat di kantor resmi memberikan pesan bahwa budaya bukan hanya untuk acara seremonial, tetapi bisa dihidupi dalam keseharian, bahkan di institusi sekaku kepolisian sekalipun. Banyak warga yang ikut mengabadikan momen dengan foto bersama petugas, dan foto-foto itu kemudian tersebar di media sosial dengan caption kebanggaan. Dengan cara tidak langsung, Polres Nganjuk telah menjadi duta budaya yang efektif.

Di akhir hari, para petugas yang kelelahan namun puas berkumpul untuk evaluasi singkat. Mereka sepakat bahwa inovasi ini layak diulang dan dikembangkan. Tidak hanya untuk Hari Kartini, tetapi juga untuk peringatan hari besar lainnya dengan busana adat yang berbeda-beda. Polres Nganjuk membuktikan bahwa profesionalisme dan keberpihakan pada budaya tidak harus bertentangan. Justru dengan merangkul nilai-nilai lokal, pelayanan publik menjadi lebih manusiawi, lebih mudah diingat, dan lebih dicintai masyarakat. Semangat Kartini untuk memajukan perempuan dan melindungi anak, serta mencintai budaya sendiri, telah diwujudkan dalam antrean SIM yang penuh tawa dan kebaya yang tersenyum di balik meja pelayanan.(Avs)

Posting Komentar

0 Komentar