Tuban, Sabtu 16 Mei 2026, bukan sekadar hari panen. Kedatangan Presiden Prabowo Subianto ke lahan jagung Kelompok Tani Ngudi Makmur mengubah suasana ladang menjadi panggung optimisme. Para petani yang selama ini jarang tersentuh kunjungan kepala negara merasa diakui keberadaannya, terutama setelah harga jagung menembus Rp6.200 per kilogram dan pupuk mulai mudah didapat.(Avs)
Ketua Poktan Ngudi Makmur, Tasmuri, tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia mengakui bahwa kebijakan baru pemerintah berhasil menurunkan harga pupuk dan memotong antrean panjang yang dulu menyiksa petani. Namun di balik senyumnya, ada keresahan yang terus menghantui: air. Lahan seluas 631,7 hektare yang dikelola 750 petani itu masih sangat bergantung pada hujan, sehingga panen kedua kerap gagal jika musim kemarau tiba.(Avs)
Tasmuri pun berharap pemerintah hadir tidak hanya saat panen raya, tetapi juga dalam bentuk sumur bor atau irigasi teknis. "Kalau tidak ada hujan, petani rugi besar karena jagung tidak jadi," tuturnya jujur. Selain air, ia mencatat peningkatan harga jual sebagai angin segar, karena biaya produksi kini bisa tertutup, berbeda dari masa lalu ketika jagung hanya dihargai Rp3.800 per kilogram.(Avs)
Sementara itu, petani hutan seperti Sudarlim dari Kelompok Tani Hutan Wono Lestari menambahkan kebutuhan fasilitas pascapanen seperti alat pengering. Dengan dukungan itu, mereka bisa memenuhi standar Bulog dan memperoleh harga maksimal. Sudarlim optimistis program swasembada pangan Presiden Prabowo akan sukses, dan ia menutup dengan doa agar kepemimpinan saat ini menjadi anugerah terbesar bagi negeri.(Avs)

0 Komentar