Jumat pagi di Desa Kepanjen, Nganjuk, bukan hanya tentang suara azan atau kegiatan pasar, tetapi juga suara sapi-sapi yang mulai terbiasa didatangi seragam cokelat. Aipda Setyo Budi, Bhabinkamtibmas Polsek Pace, sedang asyik memeriksa kandang milik warga binaannya. Tangannya menyentuh tubuh sapi, matanya menilai kebersihan lantai kandang, lalu duduk lesehan bersama pemilik ternak. Ini bukan inspeksi formal, melainkan bentuk pendampingan sektor peternakan rakyat agar tumbuh menjadi penyangga ketahanan pangan nasional sekaligus mesin ekonomi keluarga.
Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menilai langkah memanfaatkan lahan pekarangan untuk beternak sapi sebagai strategi jitu. “Ketahanan pangan tidak melulu soal sawah dan beras. Protein hewani dari ternak warga juga penting,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa nilai jual sapi di pedesaan cukup tinggi, sehingga setiap ekor yang sehat bisa menjadi tabungan hidup bagi keluarga. Dengan pendampingan rutin dari Bhabinkamtibmas, potensi ini tidak akan terbuang sia-sia.
Di lokasi, Aipda Setyo Budi melakukan pengecekan menyeluruh: kondisi ternak, kebersihan kandang, hingga kualitas pakan. Ia juga berdialog dengan warga tentang kendala kesehatan hewan yang sering muncul. Kapolsek Pace AKP Pujo Santoso mendukung penuh gaya pendampingan seperti ini. “Kami ingin anggota Bhabinkamtibmas hadir sebagai solusi, bukan sekadar simbol,” tegasnya. Menurutnya, sektor peternakan dan pertanian butuh sentuhan langsung, bukan arahan dari balik meja.
Kisah di Desa Kepanjen menutup dengan optimisme. Bukan hanya soal sapi yang gemuk atau kandang yang bersih, tetapi tentang kebiasaan baru: warga mulai percaya bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari pekarangan sendiri, dan Bhabinkamtibmas adalah mitra yang akan menjaga api semangat itu tetap menyala.(Avs)

0 Komentar