Sinergi Lintas Instansi Menggema di TMII: Kakorlantas Pimpin Apel Siaga Jasa Marga


Lapangan Taman Mini Indonesia Indah berubah menjadi lautan personel dari berbagai seragam, Selasa pagi. Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho dengan tegas memimpin Apel Terpadu Jasa Marga Siaga, sebuah momentum penting yang menandai dimulainya hitung mundur menuju Operasi Ketupat 2026. Di tengah guyuran semangat kolaborasi, apel ini bukan hanya sekadar mengecek barisan, tetapi lebih pada menyatukan visi semua elemen bangsa untuk mengawal tradisi tahunan masyarakat Indonesia: mudik Lebaran. Dari barisan itulah, komitmen untuk menghadirkan pelayanan terbaik bagi pemudik mulai dirajut.

Momen apel tersebut sekaligus menjadi ajang reuni para pucuk pimpinan sektor transportasi dan infrastruktur. Duduk dalam barisan terdepan, nama-nama seperti Dirut Jasa Marga Rivan A. Purwantono dan Dirjen Hubdat Aan Suhanan tampak serius menyimak arahan. Tak ketinggalan, Dirut Jasa Raharja Muhammad Awaluddin yang siap mem-backup aspek perlindungan kecelakaan, serta perwakilan Kementerian PUPR Wilan Octavian yang memastikan jalan-jalan dalam kondisi prima. Kehadiran mereka adalah bukti nyata bahwa mudik adalah urusan bersama yang membutuhkan sentuhan banyak tangan.

Irjen Pol Agus Suryonugroho, dalam sambutannya, tak henti-hentinya menekankan kata kunci: sinergitas. Ia mengapresiasi inisiatif Jasa Marga menggelar apel terpadu yang dianggapnya sebagai langkah strategis untuk mengukur kesiapan mental dan fisik seluruh stakeholder. Mengingat keberhasilan pengamanan tahun lalu, ia justru mendorong agar semua pihak tidak cepat berpuas diri. "Sukses tahun lalu harus jadi pijakan, bukan kemewahan," kira-kira itulah pesan tersirat yang ia sampaikan, mengajak semua untuk introspeksi dan berbenah demi pelayanan yang lebih prima di tahun ini.

Yang menarik, Kakorlantas dengan tegas mendefinisikan ulang makna Operasi Ketupat. Bukan sekadar operasi pengaturan lalu lintas biasa, ia menyebutnya sebagai "operasi kemanusiaan". Sebuah pernyataan yang menggeser paradigma dari sekadar mengurai kemacetan menjadi menjaga momentum sosial dan spiritual masyarakat. Artinya, setiap kebijakan rekayasa lalu lintas, setiap penempatan personel, dan setiap penyediaan fasilitas di rest area haruslah bermuara pada satu hal: memastikan masyarakat dapat menjalani ibadah Ramadan dan merayakan Idul Fitri dengan penuh sukacita dan tanpa gangguan berarti.

Puncak apel ditutup dengan seruan penuh energi yang langsung membakar semangat ribuan personel. "Together we can, bersama kita kuat, dan bersama kita berhasil!" seru Agus Suryonugroho, mengingatkan bahwa kolaborasi adalah fondasi utama. Pesan ini seolah menjadi pengingat bahwa di lapangan nanti, ego sektoral harus ditinggalkan. Yang ada hanyalah satu tim besar Indonesia yang bergerak serempak, mengawal jutaan pemudik menuju kampung halaman dan kembali lagi dengan selamat. Dengan semangat kebersamaan ini, arus mudik 2026 diyakini akan menjadi salah satu yang paling terorganisir dan humanis dalam sejarah.(Avs)



Posting Komentar

0 Komentar