Operasi senyap digelar Korps Lalu Lintas di ibu kota pada akhir pekan lalu, mengandalkan gawai kecil yang menggantikan peran puluhan personel lapangan. Perangkat handheld yang digenggam tangan itu mampu membidik sembarang kendaraan yang melanggar aturan, tanpa perlu kejar-kejaran di tengah kemacetan. Hasilnya, dalam satu hari saja, sistem mencatat 172 titik pelanggaran yang tersebar di berbagai ruas jalan strategis Jakarta.
Seorang perwira pertama bernama IPDA Fauzi Tirta Kusuma memimpin langsung penyisiran digital ini dengan memadukan unit Gakkum, patroli jalan raya, hingga pengaturan lalu lintas konvensional. Tidak ada peluit panjang atau razia macet yang biasa membuat pengendara stres. Sebaliknya, data mengalir tanpa suara dari handheld ke pusat kendali, di mana 87 pelanggaran langsung divalidasi keabsahannya, sementara 48 di antaranya sudah meluncur ke meja virtual untuk diproses lebih lanjut.
Kepala Korlantas, Irjen Agus Suryonugroho, mengaku bahwa era penegakan hukum dengan cara lama sudah usang. Menurutnya, teknologi bukan lagi alat bantu, melainkan tulang punggung utama untuk menjamin setiap tilang tidak lagi bisa diintervensi secara manual. Dengan sistem ini, kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian diharapkan naik karena semua terekam, terdokumentasi, dan terverifikasi secara otomatis.
Brigjen Faizal selaku Direktur Gakkum menambahkan bahwa kecepatan adalah nyawa dari penegakan presisi. Ketika pelanggaran terekam dan langsung masuk sistem dalam hitungan detik, maka celah negosiasi di pinggir jalan perlahan ditutup. Ratusan pengendara yang terjaring Sabtu lalu mungkin tidak menyadari bahwa mereka sedang menjadi bagian dari uji coba besar-besaran menuju lalu lintas berkeselamatan yang ditegakkan bukan oleh polisi, melainkan oleh algoritma.(Avs)
.jpeg)
0 Komentar