Irjen Nanang mengungkapkan bahwa beredarnya konten-konten menyesatkan di media sosial yang mengaitkan kegiatan rutin kepolisian dengan situasi konflik di negara lain adalah bentuk disinformasi yang harus diluruskan. Berdasarkan fakta di lapangan, tidak ada indikasi sedikit pun yang membenarkan narasi tersebut. Ia mengingatkan bahwa hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi adalah musuh bersama yang dapat mengancam persatuan bangsa, dan masyarakat harus bijak dalam menyikapi setiap informasi yang diterima, dengan selalu melakukan verifikasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Melalui forum Dialog Kebangsaan yang mengusung tema "Merawat Bhinneka Tunggal Ika, Memperkuat Kesatuan Bangsa di Tengah Polarisasi di Ruang Digital", Kapolda Jatim mengajak seluruh komponen masyarakat menjadi agen perdamaian di ruang digital. Ia menekankan pentingnya mengedepankan etika dalam bermedia sosial, menolak segala bentuk intoleransi dan provokasi, serta mengutamakan dialog dan musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan. Polri, tegasnya, siap memfasilitasi sekaligus mengamankan seluruh kegiatan masyarakat agar setiap perbedaan pilihan tidak berujung pada gesekan yang merugikan kepentingan umum.
Kapolda Jatim juga menyoroti pentingnya menanamkan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika kepada generasi muda sebagai benteng pertahanan terhadap pengaruh negatif era digital. Ia berharap Dialog Kebangsaan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keutuhan NKRI. Dengan semangat Jogo Jatim, mari kita jadikan ruang digital sebagai wadah persatuan, bukan perpecahan, dan bersama-sama menjaga stabilitas kamtibmas yang telah terjalin dengan baik demi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur yang berkelanjutan.(Avs)
.jpeg)
0 Komentar