Polres Trenggalek Tanam Ratusan Beringin di Lahan Kritis, Terinspirasi Mbah Sadiman yang Sukses Hijaukan Lereng Lawu


Ribuan tahun lalu, pohon beringin dikenal sebagai simbol perlindungan dan kekuatan. Kini, Polres Trenggalek Polda Jatim menghidupkan kembali makna tersebut dengan menanam ratusan pohon beringin di titik-titik lahan kritis yang tersebar di seluruh wilayah Trenggalek. Aksi yang digelar untuk memperingati Hari Bumi sedunia ini melibatkan personel kepolisian dari berbagai tingkat, mulai dari markas hingga polsek di 14 kecamatan. Kapolres Trenggalek AKBP Ridwan Maliki memimpin langsung penanaman simbolis di puncak Bukit Margo Esis, Kelurahan Surodakan. Di lokasi yang cukup ekstrem ini, sebanyak 6 batang beringin ditanam dengan harapan dapat tumbuh kokoh melewati musim kemarau dan hujan yang bergantian datang.

Mengapa memilih pohon beringin dan bukan pohon lainnya? AKBP Ridwan Maliki menjelaskan bahwa akar pohon beringin memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap dan menyimpan air dalam jumlah yang sangat besar. Sistem perakaran yang kuat dan menjalar ke berbagai arah mampu menahan tanah agar tidak longsor saat hujan deras turun dengan intensitas tinggi. Selain itu, pohon beringin juga berfungsi sebagai spons alami yang menyerap air hujan kemudian melepaskannya perlahan melalui mata air di musim kemarau. Tanpa keberadaan pohon beringin, air hujan yang turun akan langsung mengalir ke sungai dan hilang begitu saja tanpa memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Itulah sebabnya Polres Trenggalek menargetkan total 200 pohon beringin yang tersebar di seluruh kabupaten, terutama di daerah-daerah yang selama ini dikenal rawan kekeringan.

Aksi menanam pohon beringin ini bukanlah kegiatan seremonial belaka, melainkan sebuah gerakan jangka panjang yang terinspirasi dari kisah heroik seorang tokoh lingkungan dari lereng Gunung Lawu. Mbah Sadiman, nama yang disebut oleh Kapolres Trenggalek, adalah sosok sederhana yang selama puluhan tahun menanam pohon beringin seorang diri tanpa pernah lelah. Pada awalnya mungkin tidak ada yang percaya bahwa usahanya akan membuahkan hasil, tetapi waktu telah membuktikan sebaliknya. Kawasan yang dulu gersang dan kering di lereng Lawu kini berubah menjadi hijau dan memiliki sumber air yang melimpah. Ribuan warga di sekitar lereng Lawu saat ini bisa bernapas lega karena tidak perlu lagi berjalan bermil-mil hanya untuk mendapatkan air bersih. AKBP Ridwan ingin keajaiban serupa terjadi di tanah kelahiran Trenggalek yang juga tidak luput dari ancaman kekeringan setiap tahunnya.

Proses manfaat dari penanaman pohon beringin ini memang tidak akan terasa dalam waktu satu atau dua tahun. Kapolres Trenggalek menyadari sepenuhnya bahwa pohon beringin membutuhkan waktu antara 10 hingga 30 tahun untuk bisa tumbuh besar dan memberikan dampak ekologis yang signifikan. Namun seperti kata pepatah, waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu, dan waktu terbaik kedua adalah hari ini. Dengan menanam 200 beringin sekarang, Polres Trenggalek sedang berinvestasi untuk masa depan anak cucu yang akan tinggal di bumi Trenggalek puluhan tahun dari sekarang. Bukan tidak mungkin, 30 tahun mendatang para nelayan dan petani di Trenggalek akan berterima kasih atas langkah kecil yang dilakukan oleh polisi di tahun 2026. Untuk saat ini, tanah-tanah kritis di Bukit Margo Esis, Surodakan, dan 14 kecamatan lainnya telah menerima benih-benih harapan yang tertanam rapi di dalam lubang tanam. Tinggal menunggu hujan turun dan matahari bersinar bergantian, sambil berdoa agar pohon-pohon beringin itu tumbuh sekuat tekad para personel yang menanamnya.(Avs)

Posting Komentar

0 Komentar