Seorang pemuda di Nganjuk nyaris mengalami nasib sial ketika kedapatan mengendarai motor tanpa helm di tengah padatnya arus lalu lintas Selasa pagi (5/5/2026), namun nasib berkata lain. Petugas Satlantas Polres Nganjuk yang sedang menjalankan program Polantas Menyapa memilih pendekatan yang tidak lazim: bukannya mengeluarkan buku tilang, mereka malah menghentikan pemuda itu dan memberikan edukasi intensif tentang keselamatan berkendara. Di sela-sela pengaturan lalu lintas yang padat, si pemuda diajak ngobrol sejenak, diberi pemahaman bahwa helm bukanlah aksesoris melainkan pelindung nyawa. Ia pun mendengarkan dengan saksama, mungkin untuk pertama kalinya mendengar penjelasan polisi tanpa rasa takut atau kesal.
Kasat Lantas Polres Nganjuk, AKP Ivan Danara Oktavian, menjelaskan bahwa pendekatan persuasif seperti ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengubah perilaku berlalu lintas masyarakat. "Karena itu petugas kami tidak hanya melakukan pengaturan, tetapi juga langsung memberikan edukasi kepada pelanggar secara humanis," ujarnya. Program Polantas Menyapa dirancang untuk menjembatani jarak antara polisi dan masyarakat, sehingga pesan keselamatan dapat tersampaikan tanpa ketegangan. Pemuda yang ditegur itu diberi penjelasan detail tentang mengapa helm standar SNI itu wajib, mulai dari fungsi menyerap benturan hingga melindungi wajah dari serpihan kaca atau aspal.
Bahaya berkendara tanpa helm di jam-jam sibuk menjadi fokus utama edukasi. Petugas menjelaskan bahwa pagi hari adalah waktu ketika mobilitas tertinggi terjadi, dengan campuran kendaraan besar dan kecil, pengendara terburu-buru, serta kondisi jalan yang kadang licin akibat embun atau kebersihan yang kurang optimal. Risiko kecelakaan di jam-jam seperti ini bisa naik hingga dua kali lipat dibandingkan di luar jam sibuk. Tanpa helm, peluang selamat saat kecelakaan bisa turun drastis hingga di bawah 30 persen. Si pemuda tampak merenung mendengar angka-angka tersebut, seolah baru menyadari bahwa setiap kali ia melaju tanpa helm, ia mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Melalui program Polantas Menyapa, Satlantas Polres Nganjuk terus berupaya hadir lebih dekat dengan masyarakat untuk menanamkan budaya disiplin, aman, dan berkeselamatan di jalan raya. AKP Ivan Danara menegaskan bahwa peneguran langsung di lapangan seperti ini diharapkan mampu memberikan efek sadar yang lebih dalam dibandingkan sosialisasi melalui media sosial atau spanduk. Masyarakat diimbau untuk menjadikan helm sebagai bagian tak terpisahkan dari berkendara, seperti halnya kunci kontak atau bensin. Karena setiap perjalanan yang dimulai tanpa helm adalah perjalanan yang sudah mempertaruhkan nyawa sejak detik pertama mesin dinyalakan.(Avs)

0 Komentar