Aiptu Prawoko duduk bersila di pinggir petak lahan, ditemani secangkir teh hangat dari petani pemilik kebun, sambil membicarakan nasib tanaman cabai yang sudah tidak lagi produktif. Suasana akrab ini adalah hasil dari arahan Kapolres AKBP Suria Miftah Irawan yang menginginkan polisi hadir sebagai mitra, bukan pengawas. Pemantauan lahan di Ngetos ini menjadi ajang tukar pikiran tentang peremajaan, di mana petani bebas mengemukakan kekhawatiran mereka tanpa rasa canggung. Hal yang paling menarik adalah petani justru bertanya balik kepada Aiptu Prawoko tentang pengalaman polisi di desa lain yang sudah berhasil melakukan peremajaan serupa.
Kapolsek Ngetos AKP Jajuli mengungkapkan bahwa pendekatan humanis seperti ini terbukti lebih efektif daripada sekadar menyebarkan brosur atau mengadakan sosialisasi formal di balai desa. Ia menjelaskan bahwa petani lebih percaya pada bukti nyata dan dialog langsung, terutama ketika polisi menunjukkan kesediaan untuk mendengarkan keluhan teknis seperti serangan hama dan keterbatasan irigasi. Dalam obrolan itu, Aiptu Prawoko bahkan mencatat saran dari petani tentang jenis bibit cabai yang lebih tahan cuaca ekstrem, yang akan diteruskan ke penyuluh pertanian sebagai bahan pertimbangan. Kapolsek berharap pola komunikasi dua arah ini dapat memotivasi petani untuk tidak takut bereksperimen dengan metode baru.
Sementara itu, Kapolres menekankan bahwa peremajaan tanaman bukanlah solusi instan, melainkan proses yang membutuhkan kesabaran dan perawatan berkelanjutan. Ia mengibaratkan lahan pertanian seperti tubuh manusia yang butuh istirahat dan asupan nutrisi agar bisa berfungsi optimal. Dalam kunjungannya, Aiptu Prawoko melihat bahwa beberapa petak lahan justru terlalu padat ditanami tanpa jeda, sehingga tanah kehilangan unsur hara penting. Ia merekomendasikan rotasi tanaman dengan kacang-kacangan atau sayuran daun sebagai cara alami memulihkan kesuburan sebelum cabai ditanam kembali. Para petani mengangguk-angguk paham, karena selama ini mereka belum pernah mencoba sistem rotasi secara terencana.
Di akhir pertemuan, disepakati bahwa peremajaan akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari petak yang paling tua dan tidak produktif, sementara petak lain tetap dipanen hingga masa transisi selesai. Kapolsek Jajuli memastikan bahwa personel Polsek akan hadir setiap minggu untuk memantau perkembangan dan membantu jika ada kendala teknis. Para petani pun pulang dengan semangat baru, karena merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi tantangan pertanian. Polri di Nganjuk pun membuktikan bahwa tugas menjaga keamanan tidak selalu berhubungan dengan pelanggaran hukum, tetapi juga dengan menjaga kelangsungan hidup masyarakat melalui pangan yang cukup. (Avs)
.jpeg)
0 Komentar